Hari minggu ini aku sangat bosan, semua orang di rumahku
pergi. Saat aku bangun tidur tadi aku hanya disapa Bi Nah pembantuku.
Aku memang sudah, terbiasa begini orang tuaku sibuk, lebih tepatnya
ayahku yang sibuk tapi mamaku selalu ingin mendampingi ayahku yang
sekarang sedang menetap di Singapore. Mereka romantis ya? Ahh lebih
baik ku sms Arga saja, dia pacarku walaupun hubungan kami tidak
seperti orang tuaku tapi aku senang menjadi pacarnya.
To: My Arga
Arga,kmu udh bngun blm?
Bisa tmenin aku prg gak hri nih?
From: My Arga
Udh, kmana sh?
Gue mls keluar Res, kpn2 aj ya.
Lgian ga stiap lo prgi hrs sma gue kn?
Blajar hdup sndri, jgn mnja!
Setelah kubaca smsnya langsung ku buang
handphoneku. Aku hanya memintanya pergi denganku kalau tidak mau ya
sudah, kenapa harus bicara seperti itu? Aku sudah dua tahun pacaran
sama Arga, memang sih aku yang menyatakan perasaanku padanya dan
ternyata dia menerimaku, walaupun ada sedikit paksaan dari mamaku dan
mamanya. Orang tua kami memang berteman dekat, tapi selama aku dan
Arga pacaran, dia nggak pernah bersikap seperti pacarku, dia dingin
dan cuek terhadapku. Bahkan bicara denganku saja dia tidak pernah
menggunakan aku dan kamu, apalagi memanggilku dengan sebutan sayang.
Tapi aku sangat menyayanginya walaupun sikapnya begitu padaku, mungkin
hari ini dia capek, ya sudah aku pergi sendiri saja. soalnya Dita
sahabatku sedang ada acara keluarga, pasti dia sibuk.
***
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke mall di kotaku. Hari ini aku
ingin membeli sesuatu untuk Arga karena lusa adalah hari jadian kami
yang ke dua tahun. Lalu kudatangi toko baju lebih baik aku belikan
saja baju itu lebih aman pikirku. Disaat aku sedang melihat-lihat baju,
aku melihat sosok yang tidak asing bagiku. Arga dan Dita jalan
bareng, mereka tertawa dan bercanda sesuatu yang tidak pernah Arga
lakukan bersamaku. Jujur saja hatiku sakit, tapi aku harus berpikir
positif mungkin Arga ingin memberiku kado jadian dan dia memerlukan
pendapat Dita, karena Dita sahabatku sejak dulu.
Cepat-cepat ku bayar baju yang kupilih dan ku tinggalkan mall itu.
Ternyata hati dan pikiranku bertolak belakang aku cemburu melihat
kejadian tadi. Ku lajukan mobilku entah kemana, sampai aku lelah
berputar-putar selama tiga jam. Ku tepikan mobilku dipinggir jalan,
lagi-lagi terbayang adegan di mall tadi antara Arga dan Dita. Tuhan
bantu aku jernihkan pikiranku, aku sangat bingung hatiku sakit
melihatnya, aku menangis sambil membenamkan wajahku pada kemudi mobil,
setelah tenang aku bangun dan melihat jam di dasbord mobilku ternyata
sudah pukul sepuluh malam, ternyata aku terlalu lama menangis. Ku
lajukan mobilku pulang ke rumah dengan cepat. Sampai di rumah
aku langsung disambut tatapan garang dari Arga, dia menghampiriku
dengan setengah berlari.
“Lo kemana aja sih Res? Seneng banget bikin orang pusing gara-gara
lo! Sampe nyokap lo telpon gue gara-gara khawatir sama lo! Kata Bi Nah
lo pergi dari jam sepuluh pagi, lo liat sekarang jam berapa? Jam
setengah dua belas malem Resya! Mana handphone pake segala lo buang ke
tempat sampah, untung Bi Nah nemuin. Udah nggak butuh handphone lo?
Jawab gue Resya! ” Aku menatap Arga dengan mataku yang berlinang,
ku pikir dia akan menanyaiku dengan baik-baik karena
mengkhawatirkanku ternyata hanya ucapan yang keras penuh kekesalan
yang kudengar darinya.
“kenapa? aku kan nggak ganggu acara kamu. Tadi aku di suruh pergi
sendiri sekarang kamu teriak-teriak di depan muka ku, kamu punya
perasaan apa nggak sih Ga? Aku kira kamu khawatir sama aku, ternyata
cuma gara-gara mamaku yang nyuruh kamu nyari aku. Kamu pulang aja
udah malem dan besok sekolah, nanti aku yang telepon mamaku, makasih.”
Tak terasa air mataku jatuh juga di depannya ku lihat dia terdiam
mendengar ucapanku lalu aku berlari masuk ke kamarku. Ku lihat
handphoneku ada 7 miscall dari mamaku, 4 miscall dari papaku dan 3
miscall dari Dita, bahkan untuk menghubungiku saja Arga tidak
melakukannya. Tiba-tiba HPku berbunyi tertera nama My Arga disana,
lalu ku nonaktifkan Hpku lebih baik begini pikirku. Aku lelah hari ini
dan aku tertidur dengan wajah yang pias karena habis menangis.
***
Hari ini aku tidak masuk sekolah karena kepalaku agak pusing dan
badanku panas, sepertinya aku demam karena kemarin aku terlalu lelah
dan banyak pikiran sampai tidak ingat makan. Aku menghabiskan waktuku
untuk membaca novel , tapi pikiranku tidak terfokus ke alur ceritanya.
Hatiku masih terasa sakit mengingat kejadian kemarin saat Arga tertawa
riang bersama Dita dan saat Arga memarahiku dengan penuh emosi
kekesalan, itu due kejadian yang saling bertentangan. Air mataku
kembali menetes, namun cepat-cepat aku menghapusnya.
Tokk..tokk..tokk pintu kamarku di ketuk, “masuk!” seruku. Dan
kulihat Dita datang dengan wajah yang panik, aku tersenyum melihatnya,
senyum yang hambar kalau dia menyadarinya. “Resya! Lo kenapa? Sakit
ya, terus lo kemarin kemana aja sih? Semua orang panik nyari lo.”
Tanyanya padaku, “Gue cuma jalan-jalan kok, Arga katanya males keluar
dan gue nggak enak ganggu lo. ” ucapku masih sambil tersenyum, ku
lihat dia agak salah tingkah .
“Maaf ya, coba aja kemarin gue nggak ada acara keluarga lo bakal
gue temenin kemanapun lo mau.” Ucap Dita masih dengan nada bersalah. Ku
pandangi Dita, apa dia sahabatku kenapa dia berbohong? Aku lelah
sangat lelah dengan kenyataan ini, aku kembali tersenyum padanya “Dit,
gue pusing dan ngantuk gue mau tidur dulu ya? Maaf banget.” Ujarku,
lalu kulihat dia berdiri dan membalas senyumku.
“Yaudah lo tidur ya, istirahat biar cepet sembuh, gue balik
sekarang gue cuma mastiin lo nggak kenapa-napa.” Dita keluar kamarku
dan ku pandangi dia sampai dia menghilang dibalik pintu. Kenapa
kamu bohong Dit? Tuhan jangan sampai aku berpikiran negatif terhadap
sahabatku. Aduh kepalaku sangat pusing, kulirik meja disampingku
makanan dan obat tidak ada yang ku minum. Bagiku sakit yang ada di
dalam hatiku jauh lebih sakit, jadi untuk apa aku mengobati sakit
yang hanya demam. Aku pun tertidur karena tidak kuat merasa sakit
kepala yang luar biasa.
***
Pagi ini ku terbangun aku kaget melihat Arga tertidur disamping
tempat tidurku. Aku tersenyum melihatnya, jujur aku senang karena baru
pertama kali Arga begini, namun senyumku langsung lenyap saat ingat
ini pasti permintaan mamaku atau Tante Dea mamanya Arga. Ku lihat
meja disamping tempat tidurku ada baskom yang berisikan air dan lap
handuk, mungkin itu digunakannya untuk mengompresku semalam. Ku
guncang tangan Arga pelan, dia pun terbangun. “kamu ngapain disini?”
tanyaku, namun dia langsung memegang dahiku dan mengukur suhu tubuhku
dengan termometer, saat dipastikan suhu badanku normal dia membereskan
semuanya tanpa bicara padaku, “kamu disini pasti disuruh mamaku atau
Tante Dea kan? tapi nggak papa makasih ya, udah jagain aku.” Aku
bangkit dari tempat tidurku dan hendak ke kamar mandi untuk mencuci
muka, namun kepalaku masih agak pusing sehingga keseimbangan tubuhku
agak goyah Arga dengan sigap menanggkap tubuhku.
“Lo mau kemana sih? Jelas-jelas belum sembuh bener.” Ucapnya sambil
membantuku kembali ke tempat tidur. “Kalo aku nggak jatuh tadi
kamu pasti diemin aku. Salahku apa Ga?” Arga masih diam, dia sibuk
membereskan baskom dan handuk yang dipakainya untuk mengompresku
semalam, lalu dia keluar kamarku dan kembali mebawakan sarapan
untukku, “makan terus minum obatnya!” perintahnya. Aku memalingkan
mukaku darinya, “Nggak mau, aku kenyang.” Ucapku datar. Dia menghela
napasnya berat, “Res, lo harus makan! Nggak mungkin lo kenyang Bi Nah
bilang semua makanan yang dia bawain buat lo nggak ada yang lo sentuh.
"Ayo dong Res makan, lo nggak kasian liat gue? Kalo lo sakit,
disuruh ataupun nggak gue sama nyokap lo gue tetep bakal disini karena
gue cowok lo, sekarang gue capek banget jadi lo makan ya? ” Arga
membujukku ya walaupun masih ada nada tegas di dalamnya aku tidak
peduli sama sekali.
Aku girang setengah mati dengan kata-katanya baru kali ini dia
bersikap manis padaku, aku pun mengangguk dan mau makan. Setelah
makan dan minum obat Arga menyuruhku untuk tidur lagi, dia mau pulang
dulu untuk istirahat, “Makasih kamu mau ngerawat aku ya.
Ngomong-ngomong kok kamu tau aku sakit? ” tanyaku penasaran, dia duduk
di depanku dan mengancamku, “Awas kalo lo matiin HP lagi! Gue jadi
repot gara-gara itu.”
Dia bangkit dari duduknya dan hendak pergi namun ku tahan
tangannya, “Tunggu aku punya sesuatu buat kamu, Happy Anniversary dua
tahun ya Ga.” Ucapku sambil memeberikan kado yang kusiapkan untuknya
dengan senyum termanis yang ku punya tentunya. Dia mengambil hadiah
dariku dan mengusap lembut kepalaku lalu dia pamit pulang, “Gue balik
dulu ya Res.” Aku mengangguk dan kembali tiduran di tempat tidurku.
Hari ini aku senang sekali Arga mengusap kepalaku dan bersikap lebih
lembut hari ini.
***
Sudah seminggu hari manis itu berlalu, tapi sampai sekarang Arga
tidak memberiku apa-apa. Bukannya aku pamrih tapi bukan sudah
sewajarnya dia memberiku sesuatu. Tak apalah yang penting aku senang
karena dia masih setia menjadi pacarku, toh aku juga sudah melupakan
kejadian waktu itu aku melihat Arga dan Dita bersama di mall, mungkin
mereka memang punya keperluan lain atau sekedar tidak sengaja
bertemu.
Aku sedang berjalan ke kantin bersama Dita sahabatku, lalu kulihat
Arga sedang duduk bersama temannya di kantin lalu ku hampiri dia, “Ga,
anterin aku pulang ya, mobilku rusak aku nggak bawa mobil hari ini”
aku memelas dihadapannya, agar dia iba padaku dan mau mengantarku
pulang, “Iya, iya, lo mau makan?” katanya “Iya, tadi aku nggak sarapan.
Jadi, aku ngajak Dita makan sekarang. Kamu udah makan?” tanyaku
padanya “Udah tuh baru selesai.”
“Ehemm berasa nyamuk nih kita, iya nggak Dit? Gue cabut dulu deh ke
kelas.” Riko teman Arga menyindir aku dan Arga, aku hanya tertawa
pelan dan Dita pun mengangguk setuju dengan ucapan Riko, “Ehh elo Dit,
makan juga nih?” Arga memulai percakapan dengan Dita, “Iya Ga, gue
laper lagian tadi udah di tarik-tarik sama Resya.” Mereka
bercakap-cakap sendiri mengacuhkanku yang berada disebelah Arga. Bahkan
mereka bercanda dan tertawa tanpa memandangku.
Aku merasakan sakit lagi, sakit yang sama saat pertama melihat
mereka jalan berdua di mall. Perlahan aku meninggalkan
mereka berdua di kantin, rasanya aku tak sanggup berada di sana lebih
lama. Pulang sekolah aku tidak jadi minta diantar Arga, saat bel
pulang berbunyi aku langsung kabur menninggalkan Dita dan Arga. Aku
rasa aku butuh ketenangan, tapi aku kecewa Arga tidak mencariku dia
juga tidak menelepon atau mengirim sms menanyakan keadaanku. Aku lelah
seperti ini. Ku tepis perasaanku dan pikiran burukku, lebih baik aku
berpikir positif, Dita sahabat baikku dan Arga pacarku mereka orang
terdekatku saat ini dan aku percaya pada mereka. Bosan sekali rasanya
di rumah buku-buku bacaanku juga habis jadi ku putuskan pergi ke toko
buku dan membeli beberapa buku bacaan, karena mobilku dibengkel aku
pakai punya mama aja lah, cuma ke toko buku bukan pergi jarak jauh.
Sesampainya di toko buku, aku langsung memborong sekaligus 8 judul
buku yang menurutku bagus, aku sangat suka membaca jadi setiap bulan
pasti aku membeli buku, minimal lima bukulah. Setelah selesai mambayar
aku ingin langsung pulang, tapi aku melihat Dita dan Arga sedang
duduk berdua di Kafe yang letaknya di sebrang toko buku langgananku.
Mereka sepertinya sedang seru mengobrol dan bercanda, aku pun berniat
menghampiri mereka dan ikut mengobrol karena aku sangat bosan di
rumah.
Langkahku terhenti seketika di depan jendela kafe itu...
bersambungg~